Postingan

Menampilkan postingan dengan label kisah inspirasi hijrah

Refleksi dua bulan setelah pake toga

Gambar
Buatku, menulis adalah refleksi. Ketika kita bisa sama-sama saling mengerti satu sama lain, membuat proyeksi mengenai prinsip pribadi melalui diksi. Dalam baris setiap paragrafnya kini, hanya berisi ucapan syukur dan terimakasih telah melahirkanku dan memberikan kesempatan untukku meraih gelar yang selalu ku panjatkan untuk menjadi kado untuk ibu. Akhirnya anakmu ini telah wisuda. Untaian paragraf ini pun menjadi saksi bahwa tak selamanya hambatan untukmu meraih mimpi berasal dari lingkungan terdekatmu, uang misalnya, hambatan belajar atau lingkungan  yang tidak menyenangkan. Bahkan, bisa saja sebetulnya tersendatnya pendidikan selama ini karena kurangnya dekatnya diri pada sang maha melancarkan kehidupan, ibu dan tuhanmu. Sebelumnya, selama 5,5 tahun kuliah, hampir semester 1-8 aku habiskan bersama teman-teman, rekan kerja bahkan sendirian. Jarang pulang ke rumah, seringnya nginep di kosan teman, di panti atau bahkan di sekre organisasi. Klise alasannya, urusan peke...

Hari ke 9 || Ini alasanku memutuskan untuk kembali ke Mesjid Jeonju lagi.

Gambar
“Kami tertawa sepanjang perjalanan. Dalam benak aku berpikir, ternyata tak ada masalah dengan perbedaan, kita hanya perlu saling mengerti, saling mendengar dan duduk bersama. Tak akan ada permusuhan apalagi pertumpahan darah. Aku merasakannya, menjadi orang paling berbeda secara keyakinan dengan mereka semua tak mengurangi batas persahabatan dan esensi diantara kami”   Abu Bakar - Ipah - Songhye di Mesjid Jeonju Jum’at lalu menjadi hari yang tak bisa aku lupakan selama perjalananku ke korea. Kejadian yang membuat aku sama-sama bingung, mendefinisikan toleransi dan hidup bedampingan dalam beragama. Aku sudah terlalu terbiasa hidup dalam mayoritas, ini adalah pengalamanku pertama merasa ketika sholat pun susah, waktunya tak selalu tepat, kadang disatukan, seringkali diringkas. Kali ini permasalahnnya, karena salah paham mengenai sholat jumat. Kisah lengkapnya jelas akan muncul dihari khususnya tiba, kali ini aku hanya akan becerita mengapa aku harus kembali lagi ke Me...

PART 2 || Aku makin suka mulai dari instagramnya

Ku pandangi layar ponselku lamat-lamat, layar instagram sudah terbuka lebar, nama Muezza sudah ku ketikan. Oh, muncul beberapa nama, ku pandangi dengan teliti satu persatu hingga ku buka mataku lebar-lebar hingga mendekati layar untuk memeriksa kemiripan wajah, karena nyatanya yang bernama Muezza ada beberapa. Jari ku tak lelah untuk scroll dalam layar sentuh ponselku, akhirnya, eureka ! Aku menemukan akunnya, tak sulit ternyata, dia menggunakan nama aslinya, hanya Muezza. Tanganku gemetar, ragu untuk membuka, aku hanya diam memandangi akun yang ternyata asli miliknya. Iya, masih short profile , alias masih berderet dengan akun bernama Muezza lain. Jariku membeku untuk meng-klik membuka akunnya. Ponsel itu lalu kuletakkan disamping, ku kunci dengan cepat dan segera menutup layarnya yang terlindungi oleh flip case biru. Badanku membelakangi ponsel, tapi setiap membayangkan namanya, kepalaku nakal melirik ke arahnya (dibaca ponsel). Bila aku membuka dan melirik s...