Refleksi dua bulan setelah pake toga
Buatku, menulis adalah refleksi. Ketika kita bisa sama-sama saling mengerti satu sama lain, membuat proyeksi mengenai prinsip pribadi melalui diksi. Dalam baris setiap paragrafnya kini, hanya berisi ucapan syukur dan terimakasih telah melahirkanku dan memberikan kesempatan untukku meraih gelar yang selalu ku panjatkan untuk menjadi kado untuk ibu. Akhirnya anakmu ini telah wisuda. Untaian paragraf ini pun menjadi saksi bahwa tak selamanya hambatan untukmu meraih mimpi berasal dari lingkungan terdekatmu, uang misalnya, hambatan belajar atau lingkungan yang tidak menyenangkan. Bahkan, bisa saja sebetulnya tersendatnya pendidikan selama ini karena kurangnya dekatnya diri pada sang maha melancarkan kehidupan, ibu dan tuhanmu. Sebelumnya, selama 5,5 tahun kuliah, hampir semester 1-8 aku habiskan bersama teman-teman, rekan kerja bahkan sendirian. Jarang pulang ke rumah, seringnya nginep di kosan teman, di panti atau bahkan di sekre organisasi. Klise alasannya, urusan peke...